Puisi? halah…. karya kacangan….
Puisi? basi
Puisi? kurang intelek.
….. [ dan beberapa pernyataan yang mengungkapkan bahwa puisi tulisan yang kurang bermutu]
Kata siapa tidak bermutu?
Pernah membaca puisi karya Taufik Ismaik, Chairil Anwar, dan sastrawan lainnya? Pernahkah mengerti akan pesan yang disampaikan lewat puisinya?
Sadar atau tidak, ketika kita sedang sedih, “bete”, putus asa, riang, gembira, dalam kerinduan, atau sedang kasmaran, mungkin saja akan membuat puisi yang berupa curahan hati yang mengungkapkan pengalaman pribadi yang di dalamnya ada pesan yang disampaikan. Atau kita akan sedang pada sebuah lagu, lagu ada syair puisi yang dinyanyikan.
Dan tulisan saya pun yang sering dikomentari ketika berkategori puisi.
Mada dari itu saya mengartikan puisi adalah sebuah tiruan dari sebuah kenyataan, kejadian, atau peristiwa yang terjadi yang diungkapkan kembali dengan bumbu pengalaman penyair. Kehidupan yang digambarkan dalam puisi, tidak sama persis dengan kehidupan nyata. Penyair menuliskan puisi dari peristiwa atau kejadian itu, diungkapkan menggunakan pikiran dan perasaannya. Ungkapan pikiran dan perasaannya itu pun dihiasi dengan sikap penyair, latar belakang pendidikannya, budayanya, pandangan hidupnya, kedewasaan psikologisnya, dan sebagainya.
Nyatalah bahwa puisi bukan sekedar pengungkapan pikiran atau perasaan saja. Puisi adalah gabungan pikiran dan perasaan yang tidak saling terpisahkan. Di dalam puisi terdapat pikiran penyair sekaligus ungkapan perasaannya.
Berikut ini contoh puisi yang berkaitan dengan masalah air, banjir, dan kekeringan karya Taufik Ismail yang berjudul “Yang Kami Minta Hanyalah”:
Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja
Penawar musim kemarau dan tangkal bahaya banjir
Tentu bapa sudah melihat gambarnya di koran kota
Tatkala semua orang bersedih sekadarnyaDari kakilangit ke kakilangit air membusa
Dari tahun ke tahun ia datang melanda
Sejak dari tumit, ke paha lalu kepala
Menyeret semuaBila air surut tinggallah angin menudungi kami
Di atas langit dan di bawah lumpur di kaki
Kelepak podang di pohon randu
Bila tanggul pecah tinggallah runtuhan lagi
Sawah retak berebahan tangkai padiNyanyian katak bertalu-talu
Yang kami minta hanyalah sebuah bendungn saja
Tidak tugu atau tempat bermain bola
Air mancur warna-warniKirimlah kapur dan semen. Insinyur ahli
Lupakan tersedianya sedekah berjuta-juta
Yang tak sampai pada kami
Bertahun-tahun kita merdeka, bapa
Yang kami minta hanyalah sebuah bendungan saja
Kabulkanlah kiranya.
Puisi di atas berkaitan erat dengan kejadian yang diliput oleh liptan6 SCTV berikut ini.
26/06/2008 12:35 Kekeringan
Warga Purwakarta Minum Air Kubangan
Liputan6.com, Purwakarta: Kesulitan air bersih bukan monopoli warga yang tinggal di daerah perbukitan tandus saja. Warga Batutumpang, Tegalwaru, Purwakarta, Jawa Barat, yang desanya diapit Waduk Cirata dan Jatiluhur juga mengalaminya. Akibatnya, sudah sebulan terakhir warga menggunakan air kubangan untuk berbagai keperluan sehari-hari.
Salah seorang warga bernama Een, mengaku memanfaatkan air kubangan untuk keperluan mencuci hingga memasak, kendati airnya keruh dan kotor. Bagi Een, kesehatan adalah nomor sekian, karena yang terpenting saat ini masih ada air yang bisa digunakan.
Ungkapan Een terkesan ironis dan bertolak belakang dengan kampanye kesehatan yang selalu didengungkan puskesmas setempat. Bahkan, dokter puskemas menyebutkan air kubangan yang digunakan Een jauh dari definisi sehat dan layak konsumsi.
Apa boleh buat, sumur sudah mengering, sedang kebutuhan air tidak mungkin ditunda. Sedangkan program pompanisasi air waduk yang diminta warga dua tahun lalu hingga kini tak pernah terwujud.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar